Jum'at
Desaku, Guru Spiritualku tercinta...
Tulisan ini kubuat bersama dengan mulai dibuatnya catatan perjalanan hidpku didalam blog. Ide membuat catatan online sendiri sebenarnya sudah lama terpikirkan, namun baru saat ini bisa direalisasikan, karena menurutku, berbagi sesuatu yang bermanfaat itu memang sangat indah, terlepas dari pikiran takut adanya pembajakan karya cipta. Well, sebelum membaca cerita-cerita dariku, aku rasa perlu melakukan sebuah perkenalan diri dulu, agar kalian juga bisa menilai dari sudut pandang yang lebih baik. Aku seorang mahasiswi sebuah PTN, yang turut merasakan naik turunya perasaan galau, suka-cita dalam pergaulan, dan perjuangan keras dalam menaklukan nilai sebuah mata kuliah. Adapun tulisan ini sebagai penyalur suara hatiku, yang aku rasakan dan mampu aku hayati, dan tidak ada maksud sedikitpun untuk menjelekkan seseorang atau sesuatu. Tulisan ini murni dari apa yang aku pikirkan, untuk kita sama-sama mendapat pelajaran dari setiap sudut kehidupan yang terjadi disekitar kita...
Harapanku yang terbesar, semoga tulisanku dapat bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.
Kisah ini bermula ketika aku diberi tugas oleh dosenku untuk melakukan pengamatan langsung mengenai kesuburan tanah terhadap perilaku petani. Tepat hari libur paskah, aku memutuskan untuk pergi ke desaku untuk melakukan kegiatan wawancara dengan petani (yang tidak lain Pakde ku sendiri :D). Sesampainya dirumahnya, aku disuguhkan makanan, makanannya memang sederhana (hanya ada tempe dan gembus goreng beserta sayuran kacang panjang yang dikukus dan sambal kacang, tidak lupa minumannya es teh). Tapi aku mampu merasakan kenikmatannya dengan lahap, karena mengingat dengan kondisi perekonmian Pakde ku, dengan menyuguhkan yang seerti ini, aku sungguh merasa mereka sangat baik.
Acara wawancara pun segera berlanjut, selesai wawancara, Pakde ku bersedia ke sawah lagi hanya untk mendokumentasikan foto (ini sayarat dari dosennya, harus ada dokumentasi). Lucunya, dia mengajak teman rekannya yang juga berprofesi sebagai petani untuk difoto (disini aku merasa, orang desa sangat ramah dan penyayang, soalnya dalam perjalanan menuju sawah yang cukup panjang, tiap mereka bertemu, mereka saling bertegur sapa, seperti kawanan semut yang saling menempelkan antena masing-masing jika bertemu #ikatan persaudaraan yang kental).
Lalu aku pergi menghampiri ke tempat penggilingan padi, disana ada ibu-ibu yang masih memotong padi yang sudah siap dipanen, niatnya mau memfoto aktivitas mereka, eee malah ibunya berdiri diam sambil melihat kearah kamera... :D ya, sudah di foto saja, biar ga ngambek nanti.. xixixi. Berjalan keliling-keliling sawah, aku merasa senang dan nyaman, didunia ini, masih ada jiwa-jiwa yang tulus dan lugu, tidak seperti orang-orang yang pernah singgah dalam kehidupanku ini. Dan aku jadi semakin semangat untuk menciptakan sebuah terobosan baru untuk mereka dalam kegiatan bertani, karena sampai saat ini, penerapan ilmu pertanian mereka masih sangat konvensional, tanpa memiliki daya inovasi baru dan penyuluhan pun sangat sangat sangaaaat jarang ada, aku jadi sedih, untuk memanen hasil tanaman mereka, mereka sangat bekerja keras lho, aku aja sampai sangat capek dengan perjalanan menuju sawahnya saja. Belum tenaga mereka mengangkut hasil panen keatas bukit, membajak lahan, dan resiko yang harus diterima jika ternyata secara tiba-tiba mereka harus gigit jari karena gagal panen. Kadang aku merasa seolah diri ini tinggi, namun bisa dikalahkan dengan orang-orang yang tak terduga, mislanya dengan profesi petani ini, adakah orang yang mau mengambil resiko seperti petani ini, kalau aku terapkan dalam meniti karir di akademik, dengan semangat rajin belajar, pasti resiko gagal mendapat beasiswa cukup kecil, namun diri ini memang tidak suka terlalu bekerja keras.. bukankah begitu..
Sesudah melakukan dokumentasi, aku kembali ke rumah Pakde, disana aku disuguhkan lagi buah jambu yang dipetik dari pohonnya, dan Bude memberikan ku oleh-oleh kerupuk kulit (nilainya 5.000, tapi sekali lagi, jika memikirkan kondisi perekonomian mereka yang sangat minim, aku sangat miris dan tidak enak, Bude sampai bilang "Maaf, bude ga bisa kasih uang, bisanya cuma sekedar ini saja, nanti selasa datang kesini lagi, mau ada hajatan yasinan, nanti bawa pisang, pisangnya belum matang sekarang, belum dikarbit"). Akupun pamit pulang, tapi sebelum balik ke kos, aku sempatkan diri menjenguk nenek, disini aku juga kasihan sama nenek, dia seperti sebatang kara, padahal anaknya lima, tapi mereka harus memencar, mencari rezekinya masing-masing di perantauan. Nenek sangat senang jika ada yang datang berkunjung, pasti dia menanyakan "nginep ya" dan selalu menawarkan apapun yang ada dirumah, jika ditolak, nenek merasa sangat sedih sekali, akhirnya waktu itu aku terpaksa menerima makanan dari nenek, padahal sudah sangat kenyang sekali. dan pas makananku sudah mulai habis, aku merasa cukup senang, terbebas dari kekenyangan ini, tapi nenek menawariku untuk nambah :X, ampuuuun, terpaksa dimuat-muatin deh, dan ketika pulang, nenek memberiku uang 5000, dan ia juga bilang "maaf ya cuma bisa ngasih segini". Aku menangkap sesuatu, ternyata nominal bukanlah sesuatu yang pasti dapat mewakilkan, dilihat dari segi ekonomi mereka, mungkin 5.000 itu sama dengan 500.000, aku jadi belajar banyak, mengenai arti tulus tanpa pamrih yang sebenarnya.
Dewi (saudaraku),dia rela mengantari ku sampai gemolong yang letaknya jauh dari sragen, sepertinya hari ini aku banyak merepotkan yaa, sesudah sampai di gemolong dan naik bis sampai terminal tirtonadi, aku kembali minta dijemput Mas Charles (sepupuku) karena bis yang mengarah ke UNS sudah habis jam operasinya.
Aku jadi teringat kata guruku, mengenai "Don't ever feel alone", ya itu memang benar, sejatinya manusia tidak pernah sendiri, akan ada yang tulus menemani bersamanya, jika ia mau membuka mata dan tidak hanya terfokus kepada yang membenci. Dan aku juga teringat perkataan temanku "aku ga peduli mereka mau ngomong apa, toh ini hidupku, mereka kan ga megurusi hidupku... aku hanya peduli ama omongan sahabat, mereka yang benar-benar peduli aku"
atau sebuah pepatah "jika hendak menuruti semua perkataan orang-orang, maka tidak ada habisnya, atau semua akan sia-sia dan tidak bernilai" untuk itu pentingnya menjadi diri sendiri, namun turut mengasah menuju perbaikan yang lebih baik..
jika ada yang lebih baik, kenapa harus mencari yang biasa
#aku jadi mempunyai angan-angan untuk bisa membangun desa
mohon doanya ya, semoga angan-anganku dapat terwujud.. aamiin :D sekian kisahku saat ini..
jika ada yang lebih baik, kenapa harus mencari yang biasa
#aku jadi mempunyai angan-angan untuk bisa membangun desa
mohon doanya ya, semoga angan-anganku dapat terwujud.. aamiin :D sekian kisahku saat ini..