Translate

Sabtu, 26 Oktober 2013

Tuhan Izinkanlah Aku Tuk Mati Sebentar

Tuhan, izinkanlah aku tuk mati sebentar, sebentar saja, selama aku siap untuk menatap dunia yang telah Kau persiapkan untukku, skenario cobaan indah yang Kau kan berikan untukku, orang-orang terkasih yang tulus menyayangi diriku. Ya Allah, kapan aku berjumpa dengan mimpi-mimpi indahku, kapan aku bisa memiliki orang-orang yang ku tunjuk menjadi penyayang dalam diriku, kapan aku bisa melihat mereka yang jahat kena batunya, kapan aku menjadi apa yang aku idamkan
ya Allah, sampai kapan semua ini akan bermuara, sampai kapan letih ini sirna, sampai kapan aku bisa tersenyum lagi.
ya Allah, kini aku meragukan kemampuan dalam diri padahal Kau selalu percaya akan kekuatanku untuk menopangnya. Kini aku menjadi manusia yang kurang bersyukur, kurang mengerti, kurang memahami, kurang belajar.
Ya Allah, aku menyayangi-Mu, aku rindu pada-Mu, tapi aku tidak tahu apa Kau menyayangi diriku dan rindu pada diriku, mengingat aku belum menuntaskan cobaan yang Kau amanahkan padaku.
Kini yang tersisa tinggal aku seorang diri, menghadapi kerasnya ego mereka dan ketidakberdayaan dalam membela. Ya Allah, andai aku boleh mengadu dan mengumbar kesedihanku, tentu sudah ku lakukan, tapi aku percaya Ya Allah, Kau tidak suka hamba yang suka menjual kesedihannya.
Aku ingin tegar aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia, tapi pikiran ini membatasi dengan apa yang ku inginkan, padahal sejatinya masalah tak akan selesai dengan pemikiran semata.


Selasa, 22 Oktober 2013

Ingin Ku Damprat Satu-Satu

well, loe tau besi meleleh yang mendidih d tungku itu kaya apa? klo ia, lu pasti akan lebi mudah memahami apa yang w emosikan saat ini, emosi w meluap, meledak, terbakar, membara, berenang ke segala arah. ingin aku meraih rambut-rambut di kepala mereka dan w jambak-jambakin satu persatu atau perlu, w caci maki ja mereka secara tak bermoral.
namun apa daya, diriku ini masih berakal dan berhati, aku percaya, Tuhan tdak tidur, Tuhan tidak buta, Tuhan selalu mengawasi hambanya. Ku serahkan semua ini padamu Tuhan, karena aku pun tau, bisa jadi yang ku anggap benar ini adalah salah, bisa jadi memang aku yang salah, dan bisa jadi ini terjadi karena komunikasi yang salah.

oke begini abstrak nya, aku didaulat menjadi sekretaris dalam kegiatan perekrutan anggota baru, rapat 2 bulan, dan H-10 surat proposal belum jadi, emang w goblok.. w gak tau napa w bisa bikin surat selama itu, yang w yakini memang ada kesalahan w namun kesalahan mereka juga berperan andil dalam hal ini, tap sikap mereka... w telen lah semua itu tanpa perlu mengalasankan kambing hitam pada mulut-mulut mereka yang caci, pada raut-raut muka yang membenci, dan pada sikap-sikap mereka yang tidak menghargai.
Haruskah w sembah sujud and say everything is my fault gtu?

 lagi genting-gentingnya gini, rapat malah di bubuhi acara perayaan ultah salah satu panitia lah, goblok, napa gak nunggu akhir bulan. Malah dia cuma fokus ngerayain satu orang, padahal bulan oktober ada 2 org lain (udah lewat pula tanggalnya), w tanya tuh tmn w suka yg ultah ampe terburu-buru banget, di jawab ngga (w tau banget lah gaya u). Mana mau ngasih kado, w suruh ja ke personal ja, lg pula tujuan diadakan perayaan ultah untuk semua kan juga untuk menghindari kecemburuan sosial. mbuh lah, yang jelas sebenarnya w ga suka ini, kesannya gak menghargai rapat, malah w yang dipermasalahkan.(tmn w jd mandi sblm rapat, dan sorry, walaupun u lg ultah w gak bisa jaga sikap, u masih banyak dosa ma w, w cape mendemnya, makanya punya mulut dijaga dan ga usah sok tau, kalo u bisa mikir, w lebih dewasa dibanding pemikiran sempit u. Setidaknya temen w ini bahagia, aku pun turut bahagia juga).
Intinya, makanlah kalian dengan apa yang kalian mau makan, ga usah mikir dalam skala kebersamaan, muak w ama orang-orang kaya gtu.

dan pengurus kita, padahal dia berani membantah omongan juniornya dengan menyebut omongan setan, tapi ketika ketua umum bilang rapat di undur, dengan perlahan dia sepakat, seperti menjilat sepatunya sendiri, tidak ada harga, buat apa omongan-omongan u.

ketua panitia kita, yang tidak menghargai omongan cowo, tapi gentar ama gebrakan omongan cewe yang nonsense, huah... aku harus berproses dalam lingkungan yang tidak prospek?

dan bendahara kita, mantan sekretaris teladan dari mapaba selanjutnya, meremehkan kemampuanku, meragukan daya kenalaranku, pesimis terhadap keseriusanku
makan aja tuh buah pemikiran u, w telen semua, w juga gak peduli ma urusan lu

mba q yang kadang pintar tp lebih banyak oonnya, galau dengan pacar payah dan setia menjalani hubungan penurunan kualitas hidup. kalo marah, w males deket" dia

ketua umum kita, yang cuma bisa bilang ya, dan ngatur tanpa ikut berproses

sekian, w cape dan ngantuk, dan blm ngerjain tugas