Translate

Sabtu, 16 November 2013

Pelajaran kali ini adalah mengenai penundaan waktu

  Sekitar pukul 14.00, aku berdiri di tepi jalan sambil mendengarkan musik lewat earphone, menunggu kedatangan bisku, bis ATMO menuju Jurug deket Gerbang Depan UNS. Sembari aku menunggu, aku melihat dua orang lelaki paruh baya, yang sudah dua kali ditolak naik oleh bis MIRA AC jurusan Surabaya - Madiun. Aku melihatnya miris, dan berdoa semoga mereka segera mendapatkan tumpangan ditengah rintik-rintik hujan ini. Saat aku jenuh mendengarkan musik yang tak kunjung kedengaran suaranya karena kalah dengan bising kendaraan yang lalu lalang, aku pun mencabut earphoneku dan hendak memasukkan hpku kedalam tas tentengku, mendadak aku melihat bisku, kontan aku segera menghampiri sambil memasukkan hpku, setelah naik bis, karena keadaan jadi macet ketika bis berhenti hedak menungguku, akupun jadi terburu-buru, dan setelah naik bis, dari arah belakang seperti ada yang memanggil-manggil, "mba, mba, mba, hpnya jatuh" kata salah seorang lelaki tersebut sembari memberi hp, kontan aku melongo sambil menerima hpku yang tak ku percaya tadi terjatuh. Sepanjang perjalanan bis aku merenungi kejadian ini, aku jadi berpikir, bagaimana kalau tadi lelaki itu berhasil naik bis, masih adakah orang jujur disana yang akan mengembalikkan hpku, sepertinya Tuhan sengaja menunda keberangkatan lelaki tersebut, agar leleaki tersebut bisa menolongku. Ketika penundaan terhadap sesuatu yang kita inginkan akan bermanfaat bagi orang lain, alangkah indahnya hidup ini. Aku jadi tidak akan berburuk sangka terhadap apa yang tertunda terhadap apa yang kuinginkan agar terjadi, aku rela agar bisa bermanfaat bagi kebaikan orang lain, kapan lagi kita mempunyai kesempatan untuk menolong sesama, karena sejatinya kita suka sekali ditolong.

   Aku pun jadi berpikir, atau karena tadi sebelumya aku memberi makan pada salah seorang teman sehingga aku mempunyai kesempatan untuk ditolong seperti ini? apapun itu, aku bersyukur dan memahami, everything happens for reason, right?
Oh ya, sampai lupa, aku berpergian dalam rangka menghadiri seminar gratis dari LSM Aanak Negeri yang bekerjasama dengan Kementrian Dalam Negeri, mengusung tema "Penguatan Peran Pemuda dalam Upaya Menciptakan Tatanan Politik yang Berpihak pada Kepentingan Publik" di Aula Akademi Peternakan Karanganyar pada pukul 9.00 dan mulai sekitar pukul 11.00 dikarenakan pembicara yang telat. Alhamdulillah, selain dapat makan siang, modul, uang 15.000, ada yang lebih berharga yaitu bertemu rorang-orang penting nan berkarakter dan ilmu baru yang waw. Adapun yang kudapat adalah,  mengenai perubahan politik dimulai dari dalam sendiri, pemerintah melakukan pendekatan struktural dan kultural dalam terlaksananya peraturan yang ia buat, adapun pendekatan kultural dengan mempengaruhi orang-orang penting agar seiya sekata dalam berespon dengan maayarakat sekitar (jadi mau nih menjadi orang penting dalam masyarakat, aamiin). Dana yang dikeluarkan untuk pesta demokrasi pemilihan tidak main-main jumlahnya kalau ditotalkan se-Indonesia, seandainya untuk pembangunan infrastruktur....
Pilgub Jatim aja menghabiskan dana 1 T untuk pemilihan dua kali...
Kita perlu berperan dalam politik jika menginginkan Indonesia yang lebih baik, kegagalan politikus senior jangan membuat kita apatis dan menerima apa adanya, lebih baik kita turut nyebur untuk menumbang apa yang salah.

    Orang Inonesia kebanyakan menghargai yang lebih visual dibanding yang tak tampak, seperti mendahulukan makanan daripada buku. Pak Kandiyawan pernah berbincang-bincang dengan orang Jepang, sambil mengitari UNS, orang jepang itu berkata "lewat sini lebih dekat" , lalu pak Kandiyawan bertanya "kok bisa?", lalu orang Jepang tersebut menjawab " saya sudah mengitari UNS dan menghitung langkah kaki, lewat sini lebih cepat". Bandinkan dengan orang Indonesia yang cuma memandangi sekitar sambil foto-foto, kemajuan teknologi dan informasi menyebabkan kita tidak bersedia berpikir capek dan ini berbahaya.
Indonesia diharapkan lahir jiwanya tidak sekedar raganya.
Bertindaklah melalui wacana, jangan cuma kebanyakan omong tapi no action. Contoh Pak Jokowi, bertindak dahulu baru ngomong.
ikut memilih dalam pemilu karena dibayar, itu bukan partisipasi akan tetapi mobilisasi.
menjadi nomor satu itu baik akan tetapi menjadi yang satu-satunya jauh lebih baik, beranikah kita melawan arus?

Setelah selesai mengikuti seminar, berdiskusi dengan sahabat mengenai GMNI engan PMII yang ga beda jauh, jauhnya terletak di uang. Masalah kreibilitas ketua sekarang yang sepertinya dan memang gagal menjadi ketua, dan salah seorang sahabati yang mau tampil sebagai pahlawan padahal bajingan dan anehnya dia mendapat apresiasi itu, berarti bukan w yang jahat jika w merasa ada yang gak beres dengan makhluk yang satu ini. Apapun itu, semua memang mempunyai kekurangan dan kelebihan, dan w merasa orang-orang sini aneh, egonya besar tapi merasa rendah diri, semua ingin tampil dan mengeluh jika mandiri... wiss aku memang lagi sebel ama makhluk-makhluk disini. Maaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar