Kenapa lu rajin kerja, tak bisa kah kita saling bekerja, bersama untuk berkembang, apa aku sudah terlalu jauh ditinggalmu. Kini yang ku rasa, kualitas hidupku tidak ada apa-apanya dibandingmu, memikirkan saja untuk berharap, tidak ada secuil pun disana. Kenapa, kenyataan ini terlalu menyakitkan. Aku yang tidak bisa berkembang, berdiam tanpa tau pasti, berharap juga tidak mungkin, bergerak bahkan membutuhkan waktu terlalu lama untuk berjumpa denganmu di titik situ. Jauh, terlalu jauh kau melangkah, bahkan aku belum siap untuk melangkah, kau sudah di langkah itu. Akankah ada keajaiban, yang bisa membuat kita bertemu pada titik yang sama, ku harap bukan kau yang mundur melangkah untuk menemuiku, ku harap aku yang melaju ke titikmu. Aku tidak suka, bersamaku kau menjadi orang mundur, tidak bersamaku kau menjadi orang maju, sederhana, hanya sederhana saja, kita melangkah pada titik yang sama, bersama, menapaki jalan hidup, tidak untuk tinggal meninggalkan, ditinggal untuk di jemput kemudian.
Aku malu baru sampai disini, sebegitu payahnya kah kemampuanku? aku mencoba bergerak mengejarmu, menepis semua kepesimistisan yang ada, seandainya, seandainya ketika aku sampai, karena terlalu lama, dan kau, dan kau sudah bersama dengan yang lain, aku menerimanya, sungguh, walau berat, itu bukan kesalahamu, karena aku lambat, karena aku lambat.
Aku bangga menjadi mantanmu, apakah kau juga bangga sedemikian? alu belum pernah kau mengatakannya, tentu saja, karena kita sudah terlalu jauh, sudah terlalu jauh. Maaf, dua minggu yang sangat menyusahkan bagimu, dan mengesankan bagiku. Aku tidak tahu, apa aku rugi atau untung, yang ku tahu, aku cukup berdamai dengan keadaan ini. Ini menyadarkanku, aku bukanlah wanita high class, sedang pasar penawaranmu sudah high class. Keterpurukan yang paling puruk adalah ketidakberdayaan atas diri sendiri, kini, apa yang ku genggam disaat aku tidak mampu tegak, apa yang aku tuju di saat aku hampa.
Tidak, mana boleh kau mengurusi hidupku, hidupmu saja tentu sudah sulit, tidak sepantasnya aku meminta belas kasihan padamu, memecahkan konsentrasimu, setidaknya walaupun tak berguna, tidak usah menyusahkan.
Bahkan, aku merendah saja kau tidak membanggakan ku, setidaknya memujiku. Hanya bilang 'terimakasih atas suportnya', bagaimana bisa seperti itu. Sudah sewaktunya aku berhenti berkhayal, tulang rusuk ini tak mungkin punya orang sehebat dirimu, mana mungkin, sudah sepatutnya aku berkaca pada cermin besar dan bening tanpa noda sedikit pun. Kau bilang, aku apa adanya, tentu saja karena sudah tidak ada apa-apanya lagi kan. Tidak apa-apa, kenyataan memilukan ini, aku tidak akan berhenti melangkah, walau terseok-seok, walau sudah tertinggal jauh, walau tidak akan bertemu, aku harus percaya pada diriku sendiri baru orang lain akan mengakui aku ada, bahwa aku ada.
Selamat Tinggal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar