Malam ini aku melihat, pohon berguguran, daunnya hilang diterbang angin, hanya sebagian yang jatuh disekitar pohon. Warna daun yang hijau, yang satunya kecoklatan dan yang satunya coklat muda sempurna, berebut untuk saling berguguran, tidak mau ada yang mendahului, nyatanya, yang memiliki keinginan kuat untuk gugur, dialah yang paling bertahan. Daun yang gugur menyentuh tanah, tanah yang tidak sendiri, ditemani batu dan butiran debu, tanah itu diam menyambut daun yang datang menghampiri, bahkan ketika daun itu menggesek-gesek ke tanah, tanah pun tetap diam, hanya batu dan butiran debu yang sudi menyunggingkan senyumnya secuil. Kini daun itu menjadi terdiam di tanah, bingung mengajak bicara siapa, karena daun berguguran yang lain sudah tidak hafal darimana ia berasal, sudah barang tentu ia tidak mengenal rekan sebelahannya dulu, yang sabar mengantri aliran fotosintesis dari Pak Floem. Daun yang gugur itu hanya bisa mengenang, masa-masa di dahan, sewaktu angin menggoda ia dan temannya, tiupan-tiupan kecil membuat mereka geli dan tertawa renyah, lalu tiupan agak kencang membuat mereka berdebar-debar, sampai ketika mereka tidak menyadari, candaan itu berubah serius, angin marah dan langsung mengeluarkan energi yang tersisa, daun-daun diranting sebelah pada hilang, yang tetap menetap pun mengalami patah tulang, untunglah mereka berdua hanya menderita remuk badan saja. Pak Floem waktu itu sedih, asuhannya pergi meninggalkan tanpa pamit, bukan karena rindu Pak Floem sedih, tetapi takut daun-daun itu tidak bisa mandiri di luar sana, mencari segala kemungkinan yang dialami si daun itu sendiri. Kini Pak Floem meningkatkan keamanan, dia berikan asupan yang lebih bergizi, 4 sehat 5 sempurna, tak lupa ia menambahkan motivasi untuk bangkit. Sayang, umur daun terlalu singkat untuk hanya dihabiskan didahan, mereka butuh suasana berbeda sebelum berakhir, makanya mereka ingin gugur, bukan karena pohon yang menyuruh untuk mengurangi transpirasi, bukan.
Daun berguguran itu merenung, di tanah pun tidak bahagia, padahal dia pernah mendengar, daun yang diatas air pun juga merenung, daun yang diatas batu itu pun juga meresah, semua daun yang gugur, tidak ada yang senang dengan tempat tinggal mereka, mereka semua ingin balik, lebih baik mati didahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar