Aku tidak tahu apa yang sedang ku pikirkan saat ini, semua serba membingungkan. Hari ini hp ku rusak, sehingga tidak bisa membalas sms yang masuk, termasuk sms Dewi dan mamaku, entah sampai kapan aku akan membenarkannya, sebab uang bidikmisi tak kunjung turun, sebuah ketidakpastian yang pasti.
Aku membuka facebook, hanya melihat-lihat, akhir-akhir ini media massa kurang menimbulkan minat dalam benakku, jadilah fb ku tempat ladang yang membosankan. Ada teman yang mengkritik perihal aku rajin nyetatus, 6 x sehari. Tapi menurutku itu biasa, toh aku nyetatus dengan tema elegan (menurutku aja sih). Sekarang, dia rajin yang nyetatus, karena dia sedang galau, status gak penting yang ku selalu menghiasi berandaku selalu, entahlah, aku tidak ingin mendeksripsikannya terlalu jauh karena takut ketauan, yang penting tenggang rasa saja sambil menunggu orang lain yang menegurnya, akankah dia malu seperti menjlat ludahnya sendiri? hmmm.
Isi obrolan teman-temanku benar-benar tidak menarik minatku, membahas yang tidak penting, bercerita tentang dia, dia, dia, lalu artis, terus keponakan, hmmmm apalah guna membahas itu, satu dua kali it's fine tapi gak mesti dibicarakan tiap saat. Bagaimana seorang perempuan bisa tertawa dengan lelucon yang hambar, aku merasakan keterpaksaannya, bertindak sok care, basa basi gak penting, Phuft.Sampai saat ini aku belum menemukan teman yang benar-benar klop kecuali yang jauh mungkin...
Aku terlalu meributkan hal yang tidak penting menurut mereka, tapi aku juga tidak mau ikut terlibat dalam urusan gak penting bagi diriku. Ini semua seperti filsafat yang mempunyai dua sisi, kita benar diatas kesalahan dan kita salah diatas kebenaran.
Soal pacaran, entahlah menurutku selera mereka dalam berpacaran cukup rendah. Aku tidak mau menggubris ini lebih lanjut, karena ini masalah selera dan keyakinan.
Aku selalu mengganggap semua tak penting, tapi jarang memikirkan diriku penting atau tidak, biar kujawab mungkin setengahnya. Entahlah, apa yang kucari saat ini, atau ini cuma masalah waktu, sebenarnya tinggal keluar dan bermain akan bisa mengusir penat ini, tapi toh aku lebih memilih penat daripada sengatan sinar matahari di siang bolong ini.
Mungkin benar kata mamaku, aku adalah pribadi yang suka instan, walau aku selalu menyangkalnya tidak seperti itu. Mungkin saat ini hanya perlu membina step by step.
Ada yang menarik dari perkataan temanku yang tidak dewasa, dia bilang aku selalu mencari yang jauh, dan yang dekat mendekati malah diusir jauh juga. Entahlah, aku pribadi yang membosankan dan suka bosanan.
Aku menilai orang-orang jahat, tapi jarang berpikir apa aku juga punya banyak salah seperti kesalahan orang yang aku hitung. Aku tidak tahu, apa aku sudah menjalani menjadi pribadi baik sudah baik atau belum.
* aku yang mau berubah tapi tidak mau bergerak, seperti melawan hukum kelembaman Newton
Tidak ada komentar:
Posting Komentar