Bullshit tentang teori-teori yang mereka pelajari, yang mereka gemar ucapkan ketika presentasi, yang mereka rangkaikan dengan indah pada lembar kertas-kertas ujian. Semua, terkumpul, berserakan, bersatu, menjadi tumpukan sampah. Jangan ngaku diri lu mahasiswa kalau lu memandang aneh dengan orang yang membawa buku setebal 900 halaman di area kampus, jangan merasa bangga ketika lu gak bisa bedain yang mana ingin tahu haus ilmu atau sekedar ingin tahu urusan orang, dan jangan pernah ngotak-ngatik bawaan bacaan buku orang kalau lu males melangkahkan kaki menuju perpus.
Hebat, dosen merasa bangga menelurkan mahasiswa penyimpan data memori saja, mencari co-ass berlabel kapasitas menyimpan memori besar. Hari ini menjelang ulang tahun kampusku, hari ini aku melihat mahasiswa semester 4 yang sedang menekuni skripsi bab 3 nya dengan enteng mengatakan, "ngapain baca buku setebel ini", mahasiswa yang katanya berdarah Solo membaca surat yang sudah dibilang privasi, mahasiswa dengan pemahaman dia-lah yang paling benar. Semua ini membuat aku marah, gusar, frustasi dan enggan menerapkan win-win. Aku lelah kawan-kawan, disaat aku sabar mengajak kebaikan, kalian menutup usaha baik kalian dari pantauan kita, kau bilang "rahasia", mengapa tak bisa kau sebutkan supaya kita bisa sukses berasama. Aku letih kawan, disaat aku ingin privasi sepele, kalian memberondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada habisnya, padahal sewaktu aku di pihak yang penasaran, aku masih memiliki etika privasi untuk memperlakukan kalian yang nalurinya kepo tak beradab.
Aku merasa ironi, ketika kau mengatakan mencontek itu tidak mendidik, tapi kau melakukannya. Kau bilang mengeluhkan kehidupan yang seperti robotik, tidakkah kau sadari, kau sendiri yang bersedia hidungmu dilubangi untuk bisa di cucuk dosen kemana-pun. Jangan bilang ingin perubahan kalau nyalimu sekeras tempe, jangan bilang ingin lebih baik kalau kamu tidak mau melakukan pertaruhan yang tak pasti. Ganti saja bibirmu dengan paruh bebek, bising sana bising sini, bising yang hanya menghasilkan bising. Jual, juallah almamater ini sesukamu, jual semahal yang kau mau, aku tidak peduli, bagiku sesuatu yang berharga bukan yang termahal melainkan sesuatu yang tidak terukur. Mana yang membuatmu lebih hidup, emas atau oksigen? mana yang lebih mahal diantara kedua itu? kau lihat, dunia sudah tua sekarang.
Dosenku pernah berujar, untuk apa mencari nilai, nilai yang paling baik adalah nilai di sisi Allah. Dosen lain mengatakan, nilai jaman sekarang tidak bisa mengukur sebagaimana mestinya. Dosen lain juga mengatakan, gapailah ilmu bukan nilai.
Penulis pun menyadari, bahwa mungkin yg dipikirkan tidak seburuk ini, dan penulis pun juga memahami perbuatan tak semudah teori, semoga kita semua selalu diberi arah perbaikan, aamiin.
selamat berkarya!
selamat berkarya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar