Translate

Selasa, 04 Maret 2014

Surat Sehabis Ulangan

Dear mama tercinta

        Hari ini anakmu yang kau banggakan telah menempuh ulangan yang menurut dia cukup menyeramkan mengingat perihal dosennya yang perfeksionis dan sudah ketinggalan ikut satu nilai kuis yang cukup dapat membantu nilai ulangan jika tersandung remedial karena dosennya tidak sudi melayani remedial. Ma, ada beragam peristiwa menarik yang mewarnai hari ulangan-ku tadi, tentang teman-temanku yang mati-matian menghafalkan (dan mau tak mau aku-pun juga harus sudi menghafalkan) tanpa memahami isinya. Aku terlihat mendingan diantara mereka, mahasiswi yang selalu stagnan IP nya 3.1 atau 3.2, aku cukup terlihat menyakinkan dan percaya diri diantara mereka, yang sudah menggenggam nilai kuis sebagai penyangga dan masuk kelas dosenku tersebut di jadwal yang salah dengan mengantongi kisi-kisi ujian.
          Ada salah satu temanku, yang bagus perjuangannya dalam menghafalkan barisan kalimat yang tertera di ppt, sewaktu  belajar bareng bersamanya aku cukup terkejut ketika dia masih berbelit-belit mengenai kriteria unsur hara esensial, dimana barisan kalimat berupa "Tanaman tidak dapat melengkapi siklus hidupnya tanpa kehadiran unsur hara tersebut" di yakininya dan menurut perkataan dosen berupa "Tanaman tidak dapat memproduksi unsur hara tersebut secara sendiri untuk itu perlu dari masukan luar". Alhasil pendapatku yang benar. Saat aku mengerjakan ujian, entah kenapa aku selalu selesai lebih cepat diantara teman-teman, entah karena aku terlalu menyepelekan jawaban yang aku cantumkan atau aku memang sudah pasrah dengan jawaban yang terlanjur sudah aku cantumkan. Tapi aku tidak berani mengumpulkan duluan Ma, karena takut dikira sombong padahal hasil ujiannya tidak mendapat 100, takut dicap pintar yang mengakibatkan teman-teman menawarkan agar aku duduk disamping bangkunya sewaktu ujian lagi. Alhasil aku menunggu teman-teman yang masih corat-coret di lembar jawabannya, sampai aku terkantuk-kantuk dan selalu akhirnya tertidur, tapi tidak ada dosen yang menggubrisku perihal aku selalu tertidur di kelas, kecuali satu, dosen mata kuliah Agrofuel. Waktu itu dengan pedenya aku bilang "yang penting ngerti pelajarannya kan Bu", seminggu kemudian aku mendapat angka 5 pada lembar jawabanku dan aku terkena remedial yang memalukan sepanjang aku menjadi mahasiswi. Aku tetap mempertahankan egoku perihal soal ujiannya yang kelewat aneh, sepele, mudah di jawab, tapi nilai berbicara padaku bahwa egoku salah, dan aku ragu untuk mempercayainya.
        Balik lagi ke soal ujian Biologi Kesehatan Tanah ku Ma, setelah ulangan selesai, temanku itu berkata bahwa dosennya waktu itu hanya menyebutkan saja tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, jadi teman-temanku juga memberi penjelasan sesuai definisi ilmu yang mereka pelajari sebelumnya, pantas saja mereka lama untuk menjawab. Doakan aku Ma, supaya ulangan ku sukses mendapat A sehingga aku tidak perlu repot menemui dosen seperti beliau, aamiin.
     Lain halnya lagi sewaktu aku ulangan Pengolahan Tanah, dimana aku ditawari duduk disebelah teman yang mengajak, sebenarnya aku tak mau tapi karena sopan santun aku bersedia masuk ke lubang buaya yang menyakitkan karena seorang diriku harus mengalami perampokan nilai oleh calon pemimpin bangsa. Temanku itu bertanya tentang jawaban nomor 14, aku bilang aku menerka jawabannya jadi tidak pasti benar, dia bilang tidak apa-apa asal sama dengan jawabanku yang masih diragukan kebenarannya. Aneh ya Ma, kenapa dia lebih mempercayai jawabanku ketimbang insting otaknya, padahal kami sama-sama belajar selama 4 semester. Temanku yang lain pernah berujar padaku bahwa pencontek yang meminta contekan itu ibarat dia sedang berkomunikasi kepada kita bahwa dia tidak mempunyai otak dan lebih percaya kinerja otak kita.
   Ma, seandainya IPK ku seudah keluar, mana yang lebih membuatmu bangga, IPK 3.1 atau IPK 3.8, Ma tolong pada saat waktu itu tiba, jangan sampai berujar "kenapa kamu tidak bisa seperti dia", tolong jangan. Karena inilah aku, ini prinsip hidup yang aku pegang yang berbeda dari teman-teman. Mama memang tidak pernah mengajarkan aku untuk 100% jujur, tapi kelakuan hidupmu didunia nyatalah yang membuat aku mau memegang prinsip ini. Saat kau berjualan warteq, kerelaanmu melayani pembeli yang pernah mengutil barang daganganmu, setia melayani pembeli yang nunggak bonnya, tentang kejujuran dalam mencari uang. Pada saat itu kita tinggal diantara para pemulung Ma, yang suka mengutil, bahkan tetangga seberang sana sudah diketahui berprofesi maling, anak-anak yang sudah berani mengambil memori playstation kita, remaja yang kerjaannya menghasut dan membentuk koloni seperti geng nero. 
     Ma, percayalah padaku si bukan pengejar nilai, aku bisa tidak miskin di masa mendatang seperti yang kau takutkan, bekas guratan lukamu terukir baik pada garis takdir hidupku. Terimakasih karena sudah memberikan penghidupan yang layak ini, aku tetap bersyukur memiliki kedua orangtua seperti kalian...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar